Khutbah Jumat di Mesjid Baiturahmi, ulak karang padang. 11 Oktober 2025
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَنِعْمَةِ الْأَمْنِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Kaum muslimin sidang jamaah shalat jum'at
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat yang diberikan kepada kita hamba-Nya.
Salwat dan salam buat junjungan nabi kita Muhammad SAW, merupakan rul of model bagi kita umatnya, dalam segala aspek kehidupan yang kita laksanakan, baik berdimensi hablum minallah dan hablum minannas.
pada kesempata ini ijinkan khatib berpesan kepada diri khatib dan jamaah sekalian, marilah terus kita menambah amal ibadah kita dan sekaligus meningkatkan mutu ibadah kita, sebagai bekal kita menunuju kehidupan kita yang kekal dan abadi akhirat.
sidang jamaah jumat yang dimuliakan allah.
Pernahkah kita menyadari dan bertanya dalam hati: "Untuk apa sebenarnya aku hidup?" "Apa tujuan akhir dari semua kerja keras, susah, senang, dan perjuangan ini?"
Jika pertanyaan ini pernah terlintas, menandakan bahwa hati kita masih hidup dan merindukan sebuah konsep hidup yang jelas. Sebab dalam realitasnya, Banyak orang dalam menjalani hidup tidak memiliki dan menyadari konsep hidup yang terarah, saat dihadapkan masalah datang, mudah goyah, hanyut, dan merasa hidupnya hampa.
melalui pesan khutbah ini, marilah kita membuka "peta hidup" yang diberikan oleh Sang Pencipta Allah SWT, agar perjalanan kita tidak tersesat dan sampai pada tujuan yang mulia. setidaknya ada tiga hal yang merupakan pilar dalam merancang hidup yang sejalan dengan konsep ilahi, sebagai berikut:
1. HAKIKAT HIDUP: DARI MANA, UNTUK APA, KE MANA?
Konsep hidup Islam dibangun di atas tiga pertanyaan fundamental: Dari Mana? (Asal-usul), hal itu ditegaskan dalam ayat dengan jawaban Kita berasal dari Allah. berikut bunyi ayat:
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَا لَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 21).
dari arti ayat tersebut, menunjukan bahwa Kita bukanlah makhluk kebetulan. Kita diciptakan dengan penuh cinta dan tujuan oleh Allah SWT. Untuk Apa? (Tujuan). maka tujuan hidup kita sangat jelas dan jiwab pula dalam ayat yang lain sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
dalam penggalan ayat tersebut, jelas bahwa tujuan kita diciptakan untuk Ibadah. makna ibadah disini bukan hanya dalam arti yang sempit pada tatanan sholat, puasa, dan zakat. namun lebih luas yaitu seluruh aktivitas hidup kita, selama itu dalam ketaatan kepada-Nya, Bekerja yang jujur adalah ibadah, menuntut ilmu adalah ibadah, bahkan tersenyum kepada sesama adalah ibadah. Ini membuat hidup kita seluruhnya bernilai pahala.
selanjutnya, Ke Mana? (Tujuan Akhir)
Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Ia adalah ladang untuk akhirat. Tempat kita menanam benih amal. QS. Al-Qashash: 77, sebagaimana disebutkan dalam penggalan ayat, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia."(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77). dari arti ayat tersebut menandakan bahwa Kematian bukanlah akhir, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan yang abadi, baik di surga maupun neraka.
Hadirin sidang jamaah jumat..
2. HIDUP ADALAH UJIAN, BUKAN BEBAN
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 155,
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)
Setiap kesulitan, masalah, kegagalan, bahkan kesenangan yang kita alami adalah bagian dari ujian. Masalah adalah ujian kesabaran. Kesenangan adalah ujian syukur. Kemudahan adalah ujian ketundukan.
Dengan memahami ini, kita tidak akan lagi menyalahkan takdir atau orang lain ketika musibah datang. Sebaliknya, kita akan bertanya, "Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui ujian ini?" Perspektif ini mengubah beban menjadi tantangan yang menguatkan.
3. MERANCANG HIDUP YANG BERMAKNA: STRATEGI PRAKTIS
a. Hidup dengan Ilmu, bukan Asal-Asalan. Ilmu adalah cahaya. Tanpa ilmu, kita sholat asal, hidup asal. Carilah ilmu agama untuk mengetahui mana yang halal dan haram, mana yang diperintahkan dan dilarang.
b. Jadikan Setiap Detik Bernilai Ibadah. Dengan niat yang tulus, aktivitas duniawi bisa menjadi ibadah. Niatkan bekerja untuk menghidupi keluarga dengan halal, itu ibadah. Niatkan belajar untuk menjadi orang yang bermanfaat, itu ibadah. Niat yang tulus adalah kuncinya.
c. Prioritaskan yang Kekal di Atas yang Sementara. Jangan sampai kita sibuk mengurusi dunia yang fana, sampai lupa mengumpulkan bekal untuk akhirat yang kekal. Harta, jabatan, dan popularitas akan ditinggalkan. Hanya tiga hal yang akan mengiringi kita: amal sholih, doa anak sholih, dan ilmu yang bermanfaat.
d. Bangun Komunikasi dengan Allah (Sholat & Doa). Sholat adalah mi'raj-nya orang beriman. Ia adalah pengingat kita akan tujuan hidup. Ditambah dengan doa, kita pasrahkan semua perencanaan kita kepada Allah, karena Dialah yang menentukan segalanya.
e. Jadilah Manfaat bagi Sesama, sejalan dengan hal itu Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." (HR. Ahmad). Hidup yang bermakna adalah hidup yang kehadirannya membawa kebaikan untuk orang lain, baik dengan harta, tenaga, pikiran, atau senyuman.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
kesimpulan dari pesan khutbah ini adalah Dari mana kita? Dari Allah yang maha pencipta. Untuk apa kita di dunia ini? Untuk beribadah kepada Allah. selanjutnya, Ke mana kita setelah di dunia ini? Kembali kepada Allah SWT. maka dengan mengonsepkan hidup akan memiliki: Makna yang dalam. Arah yang jelas. Ketenangan dalam menghadapi ujian. Optimisme karena yakin akan pertolongan Allah.
Marilah kita menjadi hamba-hamba-Nya yang tidak hanya sibuk mencari hidup, tetapi benar-benar menjalani hidup dengan penuh makna dan tujuan.
Wallahu a'lam bishshawwab.
Fa'tabirû yâ ulil-abshâr.
Penulis: Dr. Rus Yandi, SHI, MH
Ketua Departemen Kaderisasi Pemuda dan Remaja Mesjid DMI Sumbar
HP. 082171007931